TENTANG KEMATIAN
Sejauh yang bisa aku ingat, sedikit sekali ingatan sedih yang timbul, ketika mendiang ayahku meninggal. Waktu itu aku baru berumur 11 tahun. Aku tidak pernah sadar ketika petinya di timbuni tanah, itu berarti bahwa aku tidak akan pernah bisa melihat wajahnya lagi, mencium bau keringatnya yang tercampur dengan aroma tembakau yang menjadi bau keringat yang aku sukai. Tidak akan pernah lagi merasakan pelukannya yang menghangatiku, terutama di malam-malam sepanjang musim penghujan..
Bahkan bertahun-tahun kemudian, ketika aku menyadari apa yang dibawa oleh kematian ke dalam kehidupan kita, sama sekali aku tidak mengajukan gugatan. Sama sekali tidak ada amarah dalam hatiku. Tentu menyenangkan bila saat ini aku masih mempunyai seorang ayah yang bisa berada di sampingku, mengajak berpetualang, mendiskusikan banyak hal. Tapi kehidupan tanpa seorang ayah, bukan merupakan kehidupan yang begitu menyedihkan.
Kenyataan bahwa aku kemudian memandang kepergiannya merupakan hal yang membawa kebaikan bagi keluarga, juga bukan merupakan “upaya” mencari-cari makna atau rahmat, untuk lari dari kesedihan atau menolak kepahitan yang ada. Tidak bisa dikatakan bahwa akhirnya aku berdamai dengan nasibku, karena aku sama sekali tidak pernah memulai perang melawannya.
Ibu adalah seorang yang sungguh “biasa” di mata kami. Sederhana dengan pemikiran yang sederhana pula. Berlainan dengan ayah, yang menunjukkan kecerdasannya, setiap kali kami berbicara. Beliau adalah lulusan, sekolah yang saat ini kita tahu sebagai STTTel. Setidaknya itu berarti bahwa ia lebih cerdas dari aku, karena aku gagal menembus sekolah itu.
Bahwa ibu menjadi kurang dominan, kalah peran dibandingkan dengan ayah adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tetapi dengan kepergiannya di usia masih 45 tahun, peran kuat yang ditinggalkannya perlahan-lahan bergeser kepada ibu. Mau tidak mau, suka tidak suka, percaya tidak percaya, kami mulai mengalihkan pertanyaan-pertanyaan kami ke ibu, orang tua yang masih hidup.
Dan sungguh kemudian aku bersyukur, bahwa setidaknya, ibu akhirnya mendapatkan tempatnya di hati kami. Dan sekali lagi, syukur itu bukan sebuah pemahaman akan berkah dari kepergian ayah. Sebuah pengalihan, atau sebuah upaya untuk menghibur hati yang pahit karena kepergian orang yang dicintai.
BENARKAH KEMATIAN HARUS DIMAKNAI?
Pertanyaannya yang sederhana sebenarnya adalah, benarkah kematian seseorang yang kita cintai, harus dimaknai, atau lebih tepatnya, dicari maknanya? Sadar atau tidak, setiap kali menghadapi kematian, terutama kematian orang yang kita cintai, kita akan segera mencari penjelasan. Mencari hal baik yang secara paksa kita jejalkan dalam pikiran kita, sekedar untuk mengurangi kepedihan yang kita rasakan. Yang paling sering, tentu saja adalah “Semua ini sudah takdir, kehendak Tuhan”.
Bahkan rasa kehilangan yang timbul karena kita kehilangan barang yang kira miliki, sudah mendorong kita untuk memainkan pengalihan kesedihan seperti itu. Ingat-ingatlah terakhir kali kita kehilangan sesuatu. Uang, tender, bisnis, kesehatan, mobil, atau apa saja. Bukankah komentar ini sering terdengar;
“Memang belum rejekinya”
“Mungkin kita kurang beramal”
atau:
“Daripada kaya tapi lupa Tuhan, mending miskin tetapi disayang Tuhan”
Mengapa komentar-komentar tadi timbul?
Kehilangan Karena Kelekatan
Satu hal yang harus dimengerti adalah bahwa rasa kehilangan timbul akibat dari pikiran kita yang menganggap bahwa seseorang yang meninggal merupakan bagian dari aku. Sebagian tentu menganggapnya sebagai bagian yang paling penting dalam hidupnya.’
Ketika cinta berubah. menjadi sebuah ketergantungan secara psikologis, maka kepedihan akan timbul.
Mungkin ada yang berkata bahwa meskipun yang mengalami musibah adalah orang lain, mereka tetap merasakan sebuah kepedihan. Melihat berita tentang gempa yang merenggut nyawa banyak otang misalnya. Mungkin pernyataan tadi adalah benar. Tetapi baik bila kita lihat dimensi waktunya. Berapa lama kita merasakan kesedihan itu? Seberapa intensifnya perasaan tadi? Dan yang terpenting adalah, bukankah itu juga timbul karena mereka adalah saudaraKU? Sesama orang Indonesia? Bukankah kita lebih tidak peduli, jika bencana tadi terjadi di negara yang jauh dari kita? Atau katakanlah, ketika kita pun masih peduli, bukankah karena kita merasa sebagai sesama manusia?
Bisa jadi kita tidak terlekat langsung secara psikologis, tetapi kesedihan tadi adalah tetap merupakan produk dari sebuah kelekatan. Kelekatan kita pada pikiran kita, kel;ekatan kita pada moral kita. Bahwa adalah tidak wajar, bila kita tidak merasa ikut berduka cita, bila ada bencana yang terjadi.
Lihatlah ibu-ibu yang menangis melihat tokoh sinetron idolanya, disiksa atau dijahati oleh peran antagonis. Kenapa mereka bisa menangis? Karena mereka mengidentifikasikan sang tokoh dengan diri mereka. Juga karena mereka, berdasarkan pengkondisian yang mereka terima, merasa perbuatan tadi adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. Sekali lagi, mereka terlekat, atau terprogram oleh ideal-ideal yang ada dalam pikiran kita!!!
Kembali ke saya. Mengapa ketika itu saya tidak merasakan kehilangan yang dalam?
Seandainya saat ini, saya kehilangan anak saya, maka reaksi saya tidak akan sama. Lalu factor apa yang tidak saya dapat dulu, yang ada sekarang ini? Yang membuat saya akan menjadi gila, berkabung berkepanjangan, bukan mustahil hilang iman, ketika harus kehilangan anak saya?
Apabila melihat kembali ke belakang, maka saya bisa mengerti dua hal yang membuat perbedaan tersebut. Mereka, dalam bahasa saya, adalah:
Pengulangan yang tidak cukup
Saya baru berumur 11 tahun. Sungguh pun saya mempunyai waktu-waktu yang berkualitas bersama mendiang ayah saya, waktu itu, untungnya, kalau saya boleh bersyukur, belum banyak ide atau pikiran yang masuk dalam diri saya, yang membuat saya ingin mempertahankan kehadiran seorang ayah.
Taruhlah saya mulai mempunyai kesadaran akan kehadiran seorang ayah ketika saya berumur 4 tahun. Berarti saya melewati tahun-tahun berjesadaran akan seorang ayah Selma 6 tahun, karena ayah saya meninggal ketik saya berumur 10 tahun.
Lalu bandingkan dengan anak saya. Sejak awal kehadirannya, saya sudah memiliki kesadaran itu. Hingga praktis sampai saat ini 7 tahun, lebih lama dari waktu yang saya lewati bersama dengan ayah saya.
Waktu yang lebih lama, menyebabkan hubungan yang lebih lama, dengan keintensifan yang lebih lama. Itulah kenapa, ketika Anda kehilangan teman yang belum lama menjadi teman Anda, kepedihannya tidaklah sebesar kehilangan sobat lama.
Rasa memiliki
Yang kedua, adalah rasa memiliki. Dalam hubungan dengan ayah, saya lebih merasa dimiliki daripada memiliki. Lain halnya dengan anak saya. Jelas saya merasa memiliki. Karena itu, tidak heran, lebih banyak orang akan merasakan kepedihan yang lebih besar bila ditinggal mati sang anak. “Why don’t you just take my life God, instead of my son’s.” Begitu kira-kira komentar kita kan?
Dengan memahami itu, maka kita dapat menyimpulkan bahwa tindakan mencari makna atau hikmah dari sebuah kematian adalah sebuah tindakan yang hanya merupakan upaya penghiburan diri. Hal ini diungkapkan dengan bagus lewat cerita beirkut:
Seorang ibu nampak sangat terpukul dan sedih atas kematian anaknya. Ia menangis sepanjang hari di samping peti sang anak. Seorang pendeta mencoba menghiburnya.
“Sudahlah ibu……jangan menangis terus….”
“Kenapa…kenapa….” Sang ibu masih meratap.
“Ibu tahu ….Tuhan juga merasa kehilangan anak ibu….”
“Bagaimana Bapak tahu itu….?”
“Ee…..entah…yang jelas saya yakin Tuhan juga merasa sedih atas kematian anak ibu.”
“Sudah….jangan libatkan Tuhan dalam perkara ini.”
Makna Hakiki Kematian
Adakah makna hakiki dari kematian?
Sebagian orang berpikir, bahwa kematian ya kematian. Akhir dari segalanya. Akhir sebuah perjalanan, yang dirasa sebagian orang sebagai sebuah beban berkenpanjangan, kerja tanpa istirahat.
Sebagian lagi menganggap bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Bahwa kematian adalah awal sebuah kehidupan baru, baik itu di surga nan jauh di sana, atau di bumi baru yang sengaja diciptakan Tuhan, sebagai ganjaran kepada orang-orang yang taat kepadaNya.
Saya melihat bahwa, andaipun kelompok pertama benar, bukankah itu tidak menjadikan hidup kita tidak berarti sama sekali? Apapun yang menanti di ujung kehidupan kita, bukankah hidup itu sendiri, layak untuk dihidupi?
Hitunglah berapa ribu kenikmatan yang kita rasakan. Matahari terbit, bau hujan, pelangi, tawa anak-anak, dan sebutkan sendiri bagian kehidupan yang nilai spirituilnya tinggi.
Dan bersyukurlah, ketika hidup yang hanya sekali ini, digunakan oleh orang yang meninggalkan Anda karena kematian itu, bersama dengan Anda.
Benarkah Kematian adalah Kehendak Allah?
Takdir Tuhankah kematian itu?
Mengikuti jalur pemikiran religius yang umum, maka kita bisa mengatakan bahwa kematian adalah takdir Tuhan. Dan ini memang menjadi kenyataan yang jamak, bahwa kehidupan, setiap yang hidup akan mengalami kematian. Atau setidaknya, akan mengakhirri, pada suatu saat, bentuk kehidupan yang ini. Setidaknya ini memberikan peluang kepada bentuk kehidupan yang lain, bentuk kehidupan roh, misalnya, dAn mentetramkan banyak pihak.
Meskipun ada ironi di sini. Seumur hidup orang mencoba menggapai Tuhan, memperoleh tempat di hatiNya. Tetapi kemudian menjadi begitu ketakutan ketika saat itu datang.
Lalu kenapa banyak orang yang meninggal dengan menggenaskan? Takdir jugakah itu? Yang pertama harus diingat, bahwa label “menggenaskan” adalah label yang kita ciptakan. Apakah bedanya Anda mati diterkam harimau, dengan mati terkena serangan jantuing? Apakah ada sebenarnya, yang namanya mati yang ideal? Di atas pembaringan, tanpa sakit apapun, meninggal dengan tenang hanya karena jantung kita akhirnya menyerah dan berhenti bekerja karena usia? Dari ratusan kematian yang aku saksikan, baru 1 atau 2 orang yang meniggal dengan cara seperti itu, pada usia lebih dari 100 tahun. Seperti orang tidur. Adakah? Bukankah “meninggal sempurna” atau meninggal yang ideal, merupakan bentuk dari pemikiran kita, penafsiran kita tentang ideal sebuah kematian? Dan ketika kita menciptakan kondisi ideal tersebut, kemudian kita mati-matian berusaha memenuhinya. Persis dengan yang terjaid pada sikap kita terhadap uang. Alat yang kemudian menjerat pembuatnya.
Ya, kenyataan bahwa kematian (death) adalah takdir kita semua sebagai mahkluk hidup adalah suatu hal yang tak terbantahkan. Tetapi “bagaimana kita mati” (how we die) bukanlah sebuah takdir yang sudah digariskan dari atas.
Hidup Adalah Pilihan. Demikian juga halnya dengan kematian. Bukan maksud saya, kita bebas memilih bagaimana kita mati dan kapan kita mati. Tetapi, taruhlah dalam hidup Anda memilih untuk merokok 4 bungkus sehari, selama ¾ hidup Anda, bukankah sedikir banyak itu berarti kita tengah menyiapkan sebuah kematian yang disebabkan oleh serangan jantung atau kanker paru-paru? Tidak selamanya seperti itu, tapi jangan protes kepada Tuhan, jangan katakan kehendak Tuhan, ketika akhirnya Anda meninggal karena kanker yang menggerogoti tubuh Anda. Itu pilihan Anda.
Efek Karambol
Sayangnya, dalam kehidupan yang terbatas ini, pilihan yang kita buat, akan memperngaruhi kehidupan orang lain, demikian sebaliknya pilihan orang lain akan mempengaruhi kehidupan kita.
Ketika petugas pengawas kelayakan terbang sebuah maskapai penerbangan memilih untuk menambal sobekan pada sayap pesawat dengan lakban, maka ia sedang membuat pilihan. Ia memilih untuk mengabaikan prosedur standar yang seharusnya dilaksanakan. Dan pilihan itu, tentu saja, mempengaruhi kehidupan para penumpang, ketika, misalnya akhirnya pesawat tadi mengalami gangguan penerbangan dan terjatuh.
Seorang sopir bis memilih untuk meminum miras dan menjadi mabuk sebelum berangkat. Ketika bisnya menabrak pohon di jalan, jelas bahwa pilihannya untuk mabuk membawa dampak bagi kehidupan semua penumpang. Takdirkah ini?
Sekali lagi, ya …kematian adalah takdir tetapi bagaimana kita mati, merupakan sebuah hubungan sebab akibat yang lebih kompleks dari pada sekedar kata takdir.
Merenungi semua itu, adalah langkah yang bijak bila kta tidak semata-mata menaruh beban kepada Tuhan. Seolah-olah demikianlah kehendak Tuhan. Lagipula, dengan segala keindahan hidup yang kita rasakan, sepertinya kematian tidaklah begitu mengerikan.
1 Comment »
Leave a comment
| Next »
-
Recent
-
Links
-
Archives
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.